Search Results For "Puisi Hujan"

Download MP3: Musikalisasi Puisi Grup Musik Valet

Download MP3: Musikalisasi Puisi Grup Musik Valet

Ditulis oleh Badru Tamam Mifka di/pada 25 Februari 2010

Valet adalah grup musik musikalisasi puisi yang di “komandani” Rieke “Oneng” Diah Pitaloka. Dalam album pertamanya di tahun 2006-an, Rieke dibantu oleh musisi Erwin Norom dalam aransemen musiknya. Tak heran, jika ide bagus Rieke dengan aransemen yang cukup apik dan unik membuat album yang bernuansa puitis ini sangat indah dan enak di dengar.  Gabungan instrumen, lirik dan suara vokalnya melahirkan kolaborasi musik yang segar, romantis, cantik dan memesona. Tentu saja, koleksi lagu  ini juga sarat dengan pesan yang baik. Materi lagu-lagu di album Valet tak jauh mengangkat realitas kehidupan masyarakat dan permenungan hidup, kegelisahan,  juga kritik sosial dan kuasa. Nah, bagi yang suka koleksi ini, saya punya beberapa lagunya, silakan download.

Album Musikalisasi Puisi Valet:

Valet – Hujan
Valet – Penjaga Tiang Gantungan
Valet – Ibu
Valet – Situs
Valet – Selamat Pagi, Tuhan
Valet – Setan
Valet – It’s Time

Kembali ke halaman “Musikalisasi Puisi” >

Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.

mifka weblog

Download MP3: Musikalisasi Puisi “Depan Cermin” (Puisi-puisi Agus Nasihin & Yanti Sri Budiarti)

Download MP3: Musikalisasi Puisi “Depan Cermin” (Puisi-puisi Agus Nasihin & Yanti Sri Budiarti)

Ditulis oleh Badru Tamam Mifka di/pada 23 Februari 2010

“Puisi adalah pikiran yang musikal”, kata Thomas Carlye Jika puisi adalah musik, mengapa harus dibuat musikalisasi puisi? Justru karena puisi itu musik, lebih “enak” jika diiringi instrumen musik. Musik adalah bahasa yang universal. Kita dapat menikmati musik instrumen atau lagu-lagu berbahasa asing walaupun tidak memahami makna lirik lagunya. Begitupun puisi, kata-kata dalam puisi penuh dengan konotasi, simbol, metafora. Puisi sering dihindari karena menuntut kita untuk mengaktifkan imajinasi dan pikiran (sebagian besar tidak suka berpikir). Puisi yang diolah menjadi musikalisasi puisi setidak-tidaknya diharapkan akan lebih mudah mendekatkan puisi kepada khalayak yang lebih luas. Dengan demikian, puisi dapat lebih diapresiasi oleh masyarakat yang lebih luas. Selamat menikmati musikalisasi puisi yang diambil dari kumpulan puisi “Ketika Engkau Menagih Puisi” (Agus Nasihin) dan “Bolehkah Merindu” (Yanti Sri Budiarti). Terima kasih. (Agus Nasihin & Yanti Sri Budiarti)

“Setiap orang memerlukan ‘makanan’ yang bermutu bagi jiwanya. Musik dan lagu merupakan salah satu ‘makanan’ jiwa. Musik dan lagu yang bermutu adalah yang memiliki kedalaman makna. Musikalisasi puisi adalah makanan yang bergizi. Musikalisasi puisi juga dapat menjadi jembatan bagi kualitas apresiasi musik dan apresiasi puisi.”
-Agus Nasihin

A. Bima Sutisna dan Agus Nasihin telah membuat album VCD  Musikalisasi puisi Agus Nasihin & Yanti Sri Budiarti dengan judul DEPAN CERMIN. Album ini dibuat sebagai bahan apresiasi sastra (Puisi).  Pencipta lagu dan penata musik pada album Depan Cermin ini adalah A. Bima Sutisna, yang dalam penggarapannya dibantu oleh musisi-musisi muda berbakat yang tergabung dalam grup band Aktor Orchestra, di antaranya En’s Hengki dan Triandi Purnama Ramadhan.

Berapapun kadar kualitas lagu dan musik yang saya buat, semata-mata hanyalah ungkapan rasa syukur yang sangat sederhana atas karunia Allah yang Maha Luas dan Tak Terhingga.

-A. Bima Sutisna (Pecipta Lagu, Penata Musik & Vokal)

Musikalisasi Puisi Agus Nasihin & Yanti Sri Budiarti (MP3)

01. A. Bima Sutisna – Iqra (Puisi Agus Nasihin).mp3
02. A. Bima Sutisna – Depan Cermin (Puisi Agus Nasihin).mp3
03. A. Bima Sutisna – Bolehkah Merindu (Puisi Yanti Sri Budiarti).mp3
04. A. Bima Sutisna – Ketika Kau Ragukan Aku (Puisi Agus Nasihin).mp3
05. A. Bima Sutisna – Ketika Engkau Menagih Puisi (Puisi Agus Nasihin).mp3
06. A. Bima Sutisna – Helatan Pelangi (Puisi Yanti Sri Budiarti).mp3
07. A. Bima Sutisna – Salam (Puisi Agus Nasihin).mp3
08. A. Bima Sutisna – Di Hujan (Puisi Yanti Sri Budiarti).mp3
09. A. Bima Sutisna – Istirahlah (Puisi Agus Nasihin).mp3
10. A. Bima Sutisna – Kuterjemahkan Pedih (Puisi Yanti Sri Budiarti).mp3
11. A. Bima Sutisna – Buat Alia dan Ibunya (Puisi Agus Nasihin).mp3

Album VCD: DEPAN CERMIN

Pencipta Lagu & Penata Musik: A. Bima Sutisna

Aktor Orchestra – Bandung, 2009

BELI VIDEO CD
DAN ALBUM LENGKAPNYA!

Status Posting: menunggu evaluasi…..

Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.

mifka weblog

Puisi Ketika Hujan, Tentang Kegelisahan

Hari ini, aku menemukan wajahmu diantara ribuan garis hujan.
Suara gerimis terdengar miris menabuh bumi yang makin memburuk ini.
Ah, cinta kita, kelak akan makin sempit menikmati wajah dunia,
jarak kita akan semakin dingin dan menganga dalam kata-kata…

Dengarlah,  lihatlah, usia alam telah memendam dendam pada manusia
Air sungai yang kotor meluap ke rumah-rumah, mengendap dalam tidur kita,
dan pohon-pohon tumbang menghadang jalan, ribuan tumbuhan rusak
Sampah-sampah pamplet iklan dan politik menutupi lubang-lubang selokan dan pikiran kita
Pabrik tak henti mengalirkan gelombang limbah pada hati kita
Bumi sudah sakit, langit sudah terasa pahit di lidah harapan kita

Kita begitu resah dalam putaran zaman
Cinta kita terhimpit, waktu telah merampok usianya yang panjang

Aku masih saja merindukanmu, di sini, diantara putaran malam dan siang yang terasa singkat
Mimpiku dicekik detik-detik, dicambuki hari-hari, doaku memekik di bawah terik matahari.
Aku gemetar menyulam cinta dalam gemuruh roda raksasa ekonomi yang keras menggilas nasib
Berjalan ringkih dalam nyanyian sedih kaum penganggur yang membeli harapan dengan
setumpuk amarah dan keputusasaan, terasing dalam jiwanya sendiri.

Jiwaku dijajah berjuta wajah dalam koran-koran dan majalah
Aku murung dalam sihir sinetron dan film-film
Masa depan yang rumit dan mahal, Sayangku, betapa
cinta kita dibuatnya resah dan mengalah.

Hujan masih saja turun deras dalam pikiranku.
Air sungai yang kotor meluap dalam puisiku.
Aku berselisih dengan kemungkinan dan misteri.
Tak henti melempar dadu di atas lingkar rindu yang terbakar.
Betapa kita hidup di dunia yang mendidik cinta terbiasa patuh pada sengketa dan harta.

Di sini, hujan masih saja turun deras, Sayang
Air sungai berlumpur masih meluap dalam puisiku.
Angin memangkas dedaun dan kata-kata.
Cinta kita tak henti menggigil dalam dingin usia…

EFM/ Cimahi, Februari 2010

mifka weblog

Perahu Yang Akan Segera Berangkat

Di sini, berjuta orang merindukan cahaya masa depan yang menyala terang, terlihat dari kejauhan titik cahayanya seperti kerlip bintang di ujung lautan. Mereka akan bergegas berangkat dengan biduk-biduk kecil yang mengikatkan talinya pada kekuatan laju perahu besar bernama waktu, takdir, nyanyian dan impian berjuta manusia. Perahu besar yang berlabuh setiap setahun sekali, menepi selama sebulan, dan kelak menarik apapun yang menambatkan temali pada tiangnya yang kokoh. Perahu besar itu menampung seribu dewa yang menunggu anak-anaknya. Mereka menunggu, berteriak, bernyanyi, mengeluh, memberi semangat dan menangis.

Sementara waktu telah berjalan begitu cepat, menghitung sisa hari seperti ketukan detik jam yang melekat pada bom waktu, dan itu artinya setiap orang di pulau harus bergegas mempersiapkan bekal sebelum akhirnya kapal besar itu berangkat meninggalkan pulau, sebelum kelak usia rapuh dalam kesendirian yang maha sepi. Mereka akan berbondong-bondong menuju negeri cahaya, membangun rumah, menikah dan melahirkan anak-anak yang akan melanjutkan sejarah dan silsilah.

Cahaya masa depan adalah kota harapan, tempat kebahagiaan dirumuskan dengan sempurna, kenikmatan dunia yang memanjakan raga dan jiwa. Orang-orang muda di pulau ini sudah bekerja keras mencari dan mempersiapkan cinta dan harta. Mereka diburu usia dan impiannya sendiri, berlomba dengan waktu, berdesakan meraih kesempatan untuk berangkat. Di sanalah aku berdiri, dengan jiwa yang kecewa, nanar menatap lautan, gemetar di antara keriuhan seribu manusia yang berlarian seperti layaknya ingin menyelamatkan diri dari ledakan bencana dan banjir besar.

Ya, aku terlambat mengejar laju waktu. Aku terlambat menulis kitab kehidupan yang harus aku wariskan untuk pulau ini. Aku terlambat mempersiapkan diri, bekal dan kekuatan. Lihatlah, langit mendung, biduk berderak digoyang riak, dan bayangan seorang perempuan yang bermata sendu tengah asyik menganyam hati dan usia diatasnya; nyanyiannya lamat, bayangannya bergoyang seperti asap, dan akhirnya hilang ditelan udara. Aku menerima isyarat itu dalam rinai hujan yang mulai turun. Berulangkali aku membaca pesannya dalam garis cuaca dan bintang. Pesan tentang cinta dan cahaya. Tapi gelisahku buncah, resahku rekah dalam arus darah di urat nadi tubuhku yang lemah dan lelah.

Betapa ingin aku memahami ombak dengan biduk kecil bersamanya, dialah perempuan yang berwajah lembut dan bersuara merdu ketika menerjemahkan puisi dan kehidupan. Betapa ingin aku menyentuh cahaya masa depan dengannya, dialah perempuan yang punya jemari yang halus ketika menulis suara malam dan isi hatinya. Bayangannya berkali-kali hadir, meliuk melahirkan suara yang manja pada ruang jiwaku. Tapi apakah hidup dan cita-cita bisa diselesaikan hanya dengan sebaris impian? Rasa takut seperti bahasa maut di urat leher sang pengecut. Aku berselisih dengan bayanganku sendiri. Harapan dan kenyataan saling bersahutan, menghibur sekaligus mencemoohku, membangkitkan dan menindihku.

Perempuan itu menyulam waktu dan rindu di ketinggian langit biru, betapa jauh kugapai dan kuterjemahkan dengan bahasaku. Perempuan dalam bayangan, wajah yang rekah dalam kata dan pinta. Ia bergumam pelan dalam khayalan. Hari-harinya akan terbuang dan melelahkan jika ia menunggu dan menemaniku di sini. Ia punya hak untuk berangkat lebih awal. Bagiku, ia perempuan yang cukup sempurna, sungguh disesali jika ia menungguku dan melepas kuncup-kuncup usia dan sisa waktu kebahagiaannya dalam dunia yang singkat ini. Sungguh disesali jika harapannya yang indah aku hambat dengan diri yang lemah, mudah lelah dan banyak salah ini. Ah, aku menyayanginya, itulah sebabnya aku akan merelakan ia berangkat kali ini, menuju tanah kebahagiaan. Kebahagiiaannya adalah kebahagiaanku.

Genta senja tiba-tiba berdentang, bunyi riak laut pada jangkar perahu yang diangkat memecah sunyi pada ruang jiwaku. Gema lengkingan terompet dari tiang utama perahu menggetarkan bibir pantai. Perahu akan segera berangkat, dan aku benar-benar sudah terlambat. Dadaku bergemuruh, selaksa riuh. Aku terpejam dalam diam, memilah jiwa dari rasa kecewa, menguatkan hati, bahwa kehidupan akan mengajarkan manusia untuk siap menerima kehilangan sesuatu yang sangat ia cintai. Pada letihku tetap tumbuh sang kekasih. Aku tersenyum menerjemahkan bayangan wajahnya pada warna langit. Aroma kenangan mulai tercium pada harum hujan. Aku merangkum senyumnya yang ranum pada doa-doa dan warna cuaca.

“Ya, perahu akan segera berangkat, perempuanku. Usia dan kata-kata telah menggeliat sangat cepat. Kau dan hidupmu tak punya waktu yang banyak untuk menungguku, akan butuh bertahun-tahun untuk menungguku. Cinta adalah harta yang sangat berharga dalam hidup manusia, maka aku mencintaimu, kekasihku. Betapa besar harapan untuk berangkat bersamamu. Tapi pergilah, jangan pedulikan aku, berangkatlah menuju cahaya masa depan dan kebahagiaan, tanpa aku…Telah lama sebilah belati berulangkali aku tancapkan di pusat hati dan ingatanku, dan seperti yang kau tahu, aku tak kunjung mati, aku tak bisa henti mencintaimu….”

EFM/ Cimahi, Februari 2010

mifka weblog

Aku Ingin Sapardi Djoko Damono Poem Puisi Hujan Bulan Juni

Sapardi Djoko Damono (born 20 March 1940) is a famous Indonesian poet known for lyrical poems.Well known works include Hujan Bulan Juni and Berjalan ke from Aku Ingin Sapardi Djoko Damono Poem Puisi Hujan Bulan Juni

Hujan Bulan Juni By Sapardi Djoko Damono Reviews Discussion

Sejak tahun 2009 Sapardi Djoko Damono menerbitkan buku-buku puisi, esai, dan fiksi - lama dan baru. Buku puisinya yang pertama adalah duka-Mu abadi (1969), yang from Hujan Bulan Juni By Sapardi Djoko Damono Reviews Discussion

Puisi Hujan Membawa Bayangmu Pergi… Catatan Dari Hati

Sudah lama, aku menyulam khayalan pada tirai hujan menata wajahmu disana serupa puzzle, sekeping demi sekeping, dengan perekat kenangan di tiap sisinya from Puisi Hujan Membawa Bayangmu Pergi… Catatan Dari Hati
  • Recent Search

  • Recent Posts

  • Categories

  • Partners

      You have searched the Download MP3 Gratis weblog archives for 'puisi+hujan'. If you are unable to find anything in these search results, you can try one of these links.

      Web Stats



    • Theme by OnlyBlogThemes. Sponsored by Tenerife Blog.