Tafakur

Posted in Uncategorized with a total of No comments

Posted by MP3 Gratis on March 22nd, 2010 - Permalink to this entry

Tafakur

Ditulis oleh Badru Tamam Mifka di/pada 22 Maret 2010

Di tanah yang akan punah ini usia kita tumbuh dan rubuh
Ia seperti daun-daun hari yang memutih disembelih matahari
Rumah bagi riwayat kita bangun di atas sepetak keluh kesah
Menabung mimpi yang sepi di tahun-tahun yang tenggelam
Membenahi rencana di lembaran-lembaran musim yang fana

Di sinilah di taman purba dunia dahaga iman mengendapkan jelaga
Tafakur kita tersungkur dalam legam sunyi dan misteri
Merangkak di setapak puisi memunguti remah-remah cahaya
Hayatilah nyala kegelisahan yang tak pernah selesai ini
Dengan cinta kita pertautkan temali mimpi pada tiang-tiang zaman

Di sinilah di kebun kepedihan kita tanam benih-benih permenungan
Dan kita pergilirkan silsilah rindu yang tak pernah menyerah
Doa-doa kita dilipat seperti surat yang terkirim tanpa alamat
Ia seperti pohon yang menjulurkan lidahnya pada warna langit
Dengan akar ketabahannya kita lebur dalam sujud yang teduh

Di tanah yang akan punah ini usia kita tergusur dan terbujur
Waktu perlahan akan meredup menutup pintu-pintu masa lalu
Jiwa yang berabad kita dzikirkan akan hilang dan berakhir
Hayatilah nyala kegelisahan yang tak pernah selesai ini
Sebelum kita runtuh dan terbunuh tanpa menyisakan makna

Bandung, Februari 2010

Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.

mifka weblog

Anak Masa Depan di Persimpangan Jalan

Posted in Uncategorized with a total of No comments

Posted by MP3 Gratis on March 5th, 2010 - Permalink to this entry

Di sini, di seberang gedung sekolah, aku melihat anak-anak SD berhamburan pulang. Kulihat berpuluh wajah penuh peluh, derai tawa dan mata yang bening berbinar. Melihat mereka aku jadi ingat keponakan-keponakanku, mereka juga masih duduk di sekolah dasar. Di tempat lain, aku melihat bayi dalam gendongan. Aku melihat ibu hamil akan menyeberang jalan. Hm, aku ingat, tetanggaku hari ini akan melahirkan. Ah, kelahiran, daun-daun gugur dan kemudian tumbuh penggantinya. Anak-anak yang lahir dan tumbuh hari ini adalah mereka yang terpilih menjadi penerus silsilah keluarga; dan diantara mereka, kelak akan bekerja keras untuk sejarah dan nasib  zamannya sendiri. Anak-anak yang lahir dan tumbuh hari ini adalah anak-anak yang kelak akan bekerja di ladang-ladang masa depan; menanam pikiran, moral, mentalitas, kreativitas dan impian-impian besar. Mereka akan bekerja dengan kekuatan yang kita wariskan hari ini, dengan impian yang diwariskan sejarah hari ini.

Kita hari ini mempunyai tugas berat dan penting mempersiapkan anak-anak  untuk masa depan. Pikiran dan tubuh mereka hari ini masih kosong dan lemah, harus kita isi dengan pendidikan dan kesehatan. Kita dibebani tanggung jawab untuk memberi mereka pendidikan dan kesehatan yang layak. Bekal yang layak hari ini kelak akan menolong mereka dari ganasnya bahasa zaman yang lebih buas dari zaman kita. Berdosalah kita jika hanya bertugas melahirkan mereka tanpa memberi mereka kekuatan apapun. Pikiranku tiba-tiba melayang, memunguti ingatan dan kenangan. Aku merenung, menyulam nasehat dan masa silam,  ada yang bergemuruh berulangkali di lubuk kesadaranku.

Ah, betapa anak-anak adalah harta berharga bagi kita, bagi bangsa, bagi hidup ini. Kita harus memberinya bekal untuk jalan kehidupannya yang masih panjang. Benar, kita jangan memberi anak-anak kita keyakinan bahwa uang adalah hal yang paling penting untuk merumuskan kebahagiaan hidup. Jangan manjakan mereka dengan harta, ajari mereka tentang kerja keras dan proses perjuangan. Alirkan di benak mereka pemahaman bahwa kesenangan berbeda dengan kebahagiaan seperti halnya beda antara keinginan dan kebutuhan. Jangan ajari mereka terbiasa menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah hidup. Sirami jiwa mereka dengan hikmah tentang perbedaan dalam kehidupan.

Ya, mulailah peduli untuk mempersiapkan mereka menuju sebuah perjalanan panjang masa depan. Perjalanan zaman yang banyak tikungan, gelap, licin dan terjal. Mereka kelak akan melewati semua itu tidak hanya dengan keberanian, tetapi juga dengan segenap kesadaran. Mereka akan berjalan menuju masa depan, tanpa orang tuanya, tanpa kita. Seribu rintangan nasib akan mengusik langkah mereka. Jiwa dan pikiran mereka akan berjalan diantara godaan, hasutan, tipuan dan seribu bentuk kejahatan zaman.  Titipkan di dada mereka iman terhadap kebenaran dan kekuatan untuk tetap melindungi dan membelanya. Beri mereka kebijaksanaan untuk mencintai lingkungan dan sesama manusia. Beri mereka teladan tentang takzim yang tulus pada guru dan orang tua mereka, semangat kebaikan, kesabaran dan kepercayaan diri. Tumbuhkan pada diri mereka kemampuan untuk menghargai dan memahami dirinya sendiri.

Pikiran dan nasib mereka kelak akan berpacu dengan roda zaman, dihantui kebodohan, kemiskinan dan pengangguran. Akan tiba masanya bagi mereka dimana kekayaan dan kemiskinan mereka mempunyai resiko yang sama besar dan menakutkan. Hal itu akan terjadi jika mereka terhanyut dalam keserakahan dan kemalasan. Akan tiba waktunya bagi mereka dimana kepintaran dan kebodohan akan membunuh diri mereka sendiri. Hal itu kelak terjadi jika mereka tenggelam dalam ketidaksadaran zaman. Bisikkan pada mereka tentang perjalanan orang-orang yang akan berbaris di jalan yang lurus. Ceritakan pada mereka bahwa perbuatan apapun akan berbuahkan balasan. Tanamkan di jiwa mereka kejujuran untuk mengatakan bahwa salah adalah salah dan benar adalah benar, apapun resikonya. Ajari mereka kejernihan pikiran untuk memberi nasehat dan keberanian untuk menerima kritik dan nasehat. Benamkan di hati mereka pemahaman bahwa rasa sombong tidak akan pernah menolong hidup mereka. Bimbing mereka untuk mulai mencintai ilmu pengetahuan, mencintai rasa damai…

Ah, di sini, di trotoar yang panas, laju pikiranku terhempas. Tak selesai. Suara bising knalpot menggilas lamunanku. Aku melihat anak-anak SMA bergerombol di tepi jalan. Aku ingat berita tawuran anak sekolah beberapa hari yang lalu. Di kejauhan, kulihat anak-anak SMP berkelompok mal-mal. Langit pun teduh, senja perlahan mengendap di kaki langit. Tapi, anak-anak jalanan masih hilir mudik di sepanjang jalan, diantara lampu-lampu mobil. Mereka berkeliaran dalam gelap. Adzan maghrib terdengar, bergema bercampur nyanyian anak-anak yang mendekap gitar di bawah lampu merah.  Ah, seribu anak masa depan di persimpangan jalan, anak-anak yang  merangkak dan meraba-raba di tikungan zaman. Aku ingat keponakan-keponakanku. Pikiranku terpaku. Kuhentikan pena di atas buku harianku. Hati saya berdarah, mengucurkan gelisah, lelah…

Bandung, Maret 2010

 

mifka weblog

Perahu Yang Akan Segera Berangkat

Posted in Uncategorized with a total of No comments

Posted by MP3 Gratis on February 8th, 2010 - Permalink to this entry

Di sini, berjuta orang merindukan cahaya masa depan yang menyala terang, terlihat dari kejauhan titik cahayanya seperti kerlip bintang di ujung lautan. Mereka akan bergegas berangkat dengan biduk-biduk kecil yang mengikatkan talinya pada kekuatan laju perahu besar bernama waktu, takdir, nyanyian dan impian berjuta manusia. Perahu besar yang berlabuh setiap setahun sekali, menepi selama sebulan, dan kelak menarik apapun yang menambatkan temali pada tiangnya yang kokoh. Perahu besar itu menampung seribu dewa yang menunggu anak-anaknya. Mereka menunggu, berteriak, bernyanyi, mengeluh, memberi semangat dan menangis.

Sementara waktu telah berjalan begitu cepat, menghitung sisa hari seperti ketukan detik jam yang melekat pada bom waktu, dan itu artinya setiap orang di pulau harus bergegas mempersiapkan bekal sebelum akhirnya kapal besar itu berangkat meninggalkan pulau, sebelum kelak usia rapuh dalam kesendirian yang maha sepi. Mereka akan berbondong-bondong menuju negeri cahaya, membangun rumah, menikah dan melahirkan anak-anak yang akan melanjutkan sejarah dan silsilah.

Cahaya masa depan adalah kota harapan, tempat kebahagiaan dirumuskan dengan sempurna, kenikmatan dunia yang memanjakan raga dan jiwa. Orang-orang muda di pulau ini sudah bekerja keras mencari dan mempersiapkan cinta dan harta. Mereka diburu usia dan impiannya sendiri, berlomba dengan waktu, berdesakan meraih kesempatan untuk berangkat. Di sanalah aku berdiri, dengan jiwa yang kecewa, nanar menatap lautan, gemetar di antara keriuhan seribu manusia yang berlarian seperti layaknya ingin menyelamatkan diri dari ledakan bencana dan banjir besar.

Ya, aku terlambat mengejar laju waktu. Aku terlambat menulis kitab kehidupan yang harus aku wariskan untuk pulau ini. Aku terlambat mempersiapkan diri, bekal dan kekuatan. Lihatlah, langit mendung, biduk berderak digoyang riak, dan bayangan seorang perempuan yang bermata sendu tengah asyik menganyam hati dan usia diatasnya; nyanyiannya lamat, bayangannya bergoyang seperti asap, dan akhirnya hilang ditelan udara. Aku menerima isyarat itu dalam rinai hujan yang mulai turun. Berulangkali aku membaca pesannya dalam garis cuaca dan bintang. Pesan tentang cinta dan cahaya. Tapi gelisahku buncah, resahku rekah dalam arus darah di urat nadi tubuhku yang lemah dan lelah.

Betapa ingin aku memahami ombak dengan biduk kecil bersamanya, dialah perempuan yang berwajah lembut dan bersuara merdu ketika menerjemahkan puisi dan kehidupan. Betapa ingin aku menyentuh cahaya masa depan dengannya, dialah perempuan yang punya jemari yang halus ketika menulis suara malam dan isi hatinya. Bayangannya berkali-kali hadir, meliuk melahirkan suara yang manja pada ruang jiwaku. Tapi apakah hidup dan cita-cita bisa diselesaikan hanya dengan sebaris impian? Rasa takut seperti bahasa maut di urat leher sang pengecut. Aku berselisih dengan bayanganku sendiri. Harapan dan kenyataan saling bersahutan, menghibur sekaligus mencemoohku, membangkitkan dan menindihku.

Perempuan itu menyulam waktu dan rindu di ketinggian langit biru, betapa jauh kugapai dan kuterjemahkan dengan bahasaku. Perempuan dalam bayangan, wajah yang rekah dalam kata dan pinta. Ia bergumam pelan dalam khayalan. Hari-harinya akan terbuang dan melelahkan jika ia menunggu dan menemaniku di sini. Ia punya hak untuk berangkat lebih awal. Bagiku, ia perempuan yang cukup sempurna, sungguh disesali jika ia menungguku dan melepas kuncup-kuncup usia dan sisa waktu kebahagiaannya dalam dunia yang singkat ini. Sungguh disesali jika harapannya yang indah aku hambat dengan diri yang lemah, mudah lelah dan banyak salah ini. Ah, aku menyayanginya, itulah sebabnya aku akan merelakan ia berangkat kali ini, menuju tanah kebahagiaan. Kebahagiiaannya adalah kebahagiaanku.

Genta senja tiba-tiba berdentang, bunyi riak laut pada jangkar perahu yang diangkat memecah sunyi pada ruang jiwaku. Gema lengkingan terompet dari tiang utama perahu menggetarkan bibir pantai. Perahu akan segera berangkat, dan aku benar-benar sudah terlambat. Dadaku bergemuruh, selaksa riuh. Aku terpejam dalam diam, memilah jiwa dari rasa kecewa, menguatkan hati, bahwa kehidupan akan mengajarkan manusia untuk siap menerima kehilangan sesuatu yang sangat ia cintai. Pada letihku tetap tumbuh sang kekasih. Aku tersenyum menerjemahkan bayangan wajahnya pada warna langit. Aroma kenangan mulai tercium pada harum hujan. Aku merangkum senyumnya yang ranum pada doa-doa dan warna cuaca.

“Ya, perahu akan segera berangkat, perempuanku. Usia dan kata-kata telah menggeliat sangat cepat. Kau dan hidupmu tak punya waktu yang banyak untuk menungguku, akan butuh bertahun-tahun untuk menungguku. Cinta adalah harta yang sangat berharga dalam hidup manusia, maka aku mencintaimu, kekasihku. Betapa besar harapan untuk berangkat bersamamu. Tapi pergilah, jangan pedulikan aku, berangkatlah menuju cahaya masa depan dan kebahagiaan, tanpa aku…Telah lama sebilah belati berulangkali aku tancapkan di pusat hati dan ingatanku, dan seperti yang kau tahu, aku tak kunjung mati, aku tak bisa henti mencintaimu….”

EFM/ Cimahi, Februari 2010

mifka weblog

  • Recent Search

  • Recent Posts

  • Categories

    Web Stats



  • Theme by OnlyBlogThemes. Sponsored by Tenerife Blog.